Rabu, 09 Desember 2015

Data lapangan metode kuadran Lokasi pengamatan : Hutan Ekowisata Aek Nauli Parapat



Data lapangan metode kuadran
Lokasi pengamatan     :  Hutan Ekowisata Aek Nauli Parapat
Kelompok                   : 5 Bio Nondik B ( Kel Besar 8)
Nama Anggota             : Martha, Grace, Renol, Sri Narti, Amalya
Tanggal pengamatan   : 5 Desember 2015
Nomor
Nama Jenis
Keliling pohon (cm)
Diameter Pohon (cm)
K/π


Jarak (pohon ke stasiun (cm)
Keterangan
(family)
Stasiun
Kuadran
Lokal
Botani
I
1

Leocarpus sp
67,8
21,59
307
alaeocarpaceae

2

Pinus merkusii
114
36,30
209
pinaceae

3

Capendhisia brachteata
129
41,08
540
ericaceae

4

Pinus merkusii
87
27,70
441
pinaceae
II
1

Pinus merkusii
355
113,05
181
Pinaceae

2

Pinus merkusii
127
40,45
422
Pinaceae

3

Pinus merkusii
121
38,53
430
Pinaceae

4

Pinus merkusii
140
44,50
380
pinaceae
III
1

Diosopyros ebenaceae
90
28,67
754


2

Pinus merkusii
175
55,73
831
Pinaceae

3

Pinus merkusii
203
64,65
170
Pinaceae

4

sapotaceae
78
24,8
400
sapotaceae
IV
1

Pinus merkusii
208
66,24
121
Pinaceae

2

Pinus merkusii
314
100
923
Pinaceae

3

Schima walisii
235
74,84
980


4

Schima walisii
102
32,48
474

V
1

Pinus merkusii
310
98,72
328
Pinaceae

2

Pinus merkusii
322
102,55
885
Pinaceae

3

Pinus merkusii
242
77,07
1037
pinaceae

4

Schima walisii
112
35,67
124



Stasiun 1
Stasiun 2
Stasiun 3
Stasiun 4
Stasiun 5
Kuadran 1
Leocarpus sp
Pinus merkusii
Diosopyros ebenaceae
Pinus merkusii
Pinus merkusii
Kuadran 2
Pinus merkusii
Pinus merkusii
Pinus merkusii
Pinus merkusii
Pinus merkusii
Kuadran 3
Capendhisia brachteata
Pinus merkusii
Pinus merkusii
Schima walisii
Pinus merkusii
Kuadran 4
Pinus merkusii
Pinus merkusii
sapotaceae
Schima walisii
Schima walisii


Jadi, 
Pinus merkusii                         =  13
Capendhisia brachteata          =  1
Diosopyros ebenaceae            =  1
Schima walisii                         =  3
Leocarpus sp                           =  1
Sapotaceae                              =  1

Ringkasan Data Hasil Pengamatan Metode Kuadran

No
Nama Jenis Tanaman
Jumlah pohon
Jumlah stasiun
Jumlah Keliling bidang dasar (cm)
Kerapatan
Dominansi
Frekuensi
INP
KM
KR
DM
DR
FM
FR
1
Pinus merkusii
13
5
2718
0,001325

65%
0,276994
77%
1
45%
187%
2
Capendhisia brachteata
1
1
129
0,000102
5%
0,013146
3,5%
0,2
9%
17,5%
3
Diosopyros ebenaceae
1
1
90
0,000102
5%
0,009172
2,5%
0,2
9%
16,5%
4
Schima walisii
3
2
449
0,000306
15%
0,045758
13%
0,4
18%
46%
5
Leocarpus sp
1
1
67,8
0,000102
5%
0,00691

2%
0,2
9%
16%
6
sapotaceae
1
1
78
0,000102
5%
0,007949
2%
0,2
9%
16%














KETERANGAN  :
KM : Kerapatan Mutlak
KR : Kerapatan Relatif
DM : Dominansi Mutlak
DR : Dominansi Relatif
FM : Frekuensi Mutlak
FR : Frekuensi Relatif
INP : Indeks Nilai Penting


Kerapatan Total
KT =     dengan  d = jarak rata-rata seluruh pohon (20 pohon)
                                                                d = 496,85 cm = 497 cm = 4,97m
KT =   =   =   397,253 → 397

Kerapatan Mutlak Jenis i (KM)
KM (i) =
Pinus merkusii                         =    = 0,001325
Capendhisia brachteata          =    = 0,000102
Diosopyros ebenaceae            =    = 0,000102
Schima walisii                         =    = 0,000306
Leocarpus sp                           =    = 0,000102
Sapotaceae                              =    = 0,000102
0,002032

Kerapatan Jenis i (KR)
KR (i) =  
 Pinus merkusii                        =  65%
Capendhisia brachteata          =  5%
Diosopyros ebenaceae            =  5%
Schima walisii                         =   15%
Leocarpus sp                           =  5%
Sapotaceae                              =   5%
Frekuensi Mutlak Jenis i (FM)
FM (i)  = 
Pinus merkusii                         =  5/5 = 1
Capendhisia brachteata          = 1/5 = 0,2
Diosopyros ebenaceae            =  1/5 = 0,2
Schima walisii                         =  2/5 = 0,4
Leocarpus sp                           =  1/5 = 0,2
Sapotaceae                              =  1/5 = 0,2


Frekuensi Relatif Jenis i (FR)
FR (i) =  x 100%
Pinus merkusii                         =   =  45%
Capendhisia brachteata          =   =  9%
Diosopyros ebenaceae            =   =  9%
Schima walisii                         =   =  18%
Leocarpus sp                           =   =  9%
Sapotaceae                              =   =  9%








Dominansi Mutlak  jenis i (DM)
DM (i)  = 
Pinus merkusii                         =  0,276994
Capendhisia brachteata          =    = 0,013146
Diosopyros ebenaceae            =    = 0,009172
Schima walisii                         =    =  0,045758
Leocarpus sp                           =    = 0,00691
Sapotaceae                              =    = 0,007949

Dominansi Relatif Jenis i (DR)
 DR (i)  =  x 100%
Pinus merkusii                         =    x 100%  =   77%
Capendhisia brachteata          =    x 100%  =  3,5%
Diosopyros ebenaceae            =    x 100%  =  2,5%
Schima walisii                         =    x 100%  =  13%
Leocarpus sp                           =    x 100%  =  2%
Sapotaceae                              =    x 100%  =  2%




INDEKS NILAI PENTING (INP)
INP = KR(i) + FR(i) + DR(i)
INP Pinus merkusii                  =  65%  + 45%  + 77%  = 187%
INP Capendhisia brachteata    =  5%  + 9%  + 3,5%   = 17,5%
INP Diosopyros ebenaceae      =  5%  + 9%  + 2,5%  = 16,5%
INP Schima walisii                  =  15%  + 18%  + 13%  = 46%
INP Leocarpus sp                    =  5%  + 9%  + 2%  = 16%
INP Sapotaceae                       =   5% +  9%  + 2%  = 16%





PEMBAHASAN

Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari :
1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
 a. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
 b. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
 c. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
Metode Titik
     Merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).

   Metode Kuadran
Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh  (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tihang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan mulai anakan sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai ).
            Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini mudah dan lebih cepat digunanakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.  Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya.



System analisis
Titik-titik yang telah dibuat dan disebarkan secara acak atau sistematis merupakan pusat-pusat dari suaatu daerah pengamatan secara abstrak menjadi empat sector pengamatan sesuai dengan arah mata  angin. Empat sektor tersebut antar lain :
o   Daerah I             : dibatasi oleh arah Barat-Utara
o   Daerah II            : dibatasi oleh arah Utara-Timur
o   Daerah III           : dibatasi oleh arah Timur-Selatan
o   Daerah IV           : dibatasi oleh arah Selatan-Barat   

Basal area
Basal area merupakan penutupan areal hutan mangrove oleh batang pohon. Basal area didapatkan dari pengukuran batang pohon mangrove yang diukur secara melintang (Cintron dan Novelli, 1984). Diameter batang tiap spesies tersebut kemudian diubah menjadi basal area dengan menggunakan rumus :
Dimana : BA = Basal Area
                                π = 3,14  
              d = Diameter batang
           
Kerapatan absolute
Kerapatan absolute = Luas area / P2
P = Total jarak / jumlah point center

Kerapatan relative
Kerapatan relative = Jumlah spesies / Total seluruh spesies x 100 % (Bambang, 2012).

Berdasarkan data kerapatan, dapat diketahui symbol atau singkatan pada kerapatan pada analisis vegetasi:
· Kerapatan Mutlak (KM)
· Kerapatan Nisbi (KN)
· Berat Kering Mutlak (BKM)
· Berat Kering Nisbi (BKN)  
· Frekuensi Mutlak (FM)
· Frekuensi Nisbi (FN)
· Nilai Penting (NP)
Menghitung kerapatan, frekuensi, dominansi dan Indeks Nilai Penting
a.   Densitas (kerapatan=K) adalah jumlah individu per satuan luas atau per unit volume. Densitas spesies ke-i dapat dihitung dengan cara:
K-i       =          jumlah individu satuan jenis (i)
                                    Luas seluruh plot

K Relatif (KR)-i          =          K suatu jenis      x 100%
                                                K total seluruh jenis
b.   Frekuensi spesies tumbuhan adalah jumlah plot tempat ditemukannya suatu spesies dari sejumlah plot  yang dibuat. Frekuensi merupakan besarnya intensitas ditemukannya spesies dalam pengamatan keberadaan organisme pada komunitas atau ekosistem. Untuk analisis komunitas tumbuhan, frekuensi spesies (F), frekuensi spesies ke-i (F-i), dan frekuensi relatif spesies ke-i (FR-i) dapat dihitung dengan rumus berikut:
F-i        =          jumlah satuan petak yang diduduki oleh jenis (i)
                                                            Jumlah seluruh plot

FR-i     =                      frekuensi jenis(i)          x 100%
                                    Jumlah frekuensi seluruh jenis
c.     Dominansi menyatakan suatu jenis tumbuhan utama yang mempengaruhi dan melaksanakan kontrol terhadap komunitas dengan cara banyaknya jumlah jenis, besarnya ukuran maupun pertumbuhannya yang dominan. Berikut rumusnya:
D-i       =          jumlah kerimbunan individu suatu jenis (i)
                                                luas area sampel
DR-i    =                      dominansi jenis (i)             x 100%
                        Jumlah dominansi seluruh jenis

d.      Indeks Nilai Penting (INP) atau important value index merupakan indeks kepentingan yang menggambarkan pentingnya peranan suatu vegetasi dalam ekosistemnya. Apabila nilai INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi, maka jenis itu sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem tersebut.
            Indeks nilai penting (INP) dapat digunakan untuk menentukan dominansi jenis tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya, karena dalam suatu komunitas yang bersifat heterogen data parameter sendiri-sendiri dari nilai frekuensi, kerapatan, dan dominansinya tidak dapat menggambarkan secara menyeluruh, maka untuk menentukan nilai pentingnya yang mempunyai kaitan dengan struktur komunitasnya dapat diketahui dari INP nya. Yaitu suatu indeks yang dihitung berdasarkan jumlah seluruh nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dan dominansi relatif (DR) :
            INP     =          KR+FR+DR




Manfaat Analisis Vegetasi
Manfaat analisa vegetasi adalah sebagai berikut :
1.    Dapat mengetahui komposisi jenis gulma dan menetapkan jenis yang dominan. Biasanya hal ini dilakukan untuk keperluan perencanaan, misalnya untuk memilih herbisida yang sesuai.
2.    Dapat mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan antara dua vegetasi. Hal ini penting misalnya untuk membandingkan apakah terjadi perubahan komposisi vegetasi gulma sebelum dan setelah dilakukan  pengendalian dengan cara tertentu.
3.    Dapat mengetahui gulma - gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup.


Kesimpulan

Tipe vegetasi di Hutan Aek Nauli adalah tipe Hutan Pinus dengan pohon yang dominan adalah Pohon Pinus (Pinus merkusii)
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan


Daftar Pustaka
Arrijani, dkk .2006. Analisis Vegetasi. Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung  Gede-Pangrango

Bambang, dkk. 2012. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Jambi: UNJA

Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor : Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB.

Purwaningsih, dan R. Yusuf. 2005. Komposisi Jenis dan Struktur Vegetasi Hutan di Kawasan Pakuli, Taman Nasional Lore Lindu. Sulawesi Tengah. Biodiversitas 6 (2): 123-128.

Sagala, E.H.P, 1997. Analisa  Vegetasi  Hutan  Sibayak  II  pada  Taman  Hutan Rakyat  Bukit  Barisan  Sumatera  Utara.  Skripsi  Sarjana  Biologi                 (Tidak dipublikasi) Medan: FMIPA USU.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar