Data
lapangan metode kuadran
Lokasi pengamatan :
Hutan Ekowisata Aek Nauli Parapat
Kelompok : 5 Bio Nondik B ( Kel Besar 8)
Nama Anggota : Martha, Grace, Renol, Sri Narti, Amalya
Tanggal pengamatan : 5 Desember 2015
|
Nomor
|
Nama
Jenis
|
Keliling
pohon (cm)
|
Diameter
Pohon (cm)
K/π
|
Jarak
(pohon ke stasiun (cm)
|
Keterangan
(family)
|
||
|
Stasiun
|
Kuadran
|
Lokal
|
Botani
|
||||
|
I
|
1
|
|
Leocarpus
sp
|
67,8
|
21,59
|
307
|
alaeocarpaceae
|
|
|
2
|
|
Pinus
merkusii
|
114
|
36,30
|
209
|
pinaceae
|
|
|
3
|
|
Capendhisia
brachteata
|
129
|
41,08
|
540
|
ericaceae
|
|
|
4
|
|
Pinus
merkusii
|
87
|
27,70
|
441
|
pinaceae
|
|
II
|
1
|
|
Pinus
merkusii
|
355
|
113,05
|
181
|
Pinaceae
|
|
|
2
|
|
Pinus
merkusii
|
127
|
40,45
|
422
|
Pinaceae
|
|
|
3
|
|
Pinus
merkusii
|
121
|
38,53
|
430
|
Pinaceae
|
|
|
4
|
|
Pinus
merkusii
|
140
|
44,50
|
380
|
pinaceae
|
|
III
|
1
|
|
Diosopyros
ebenaceae
|
90
|
28,67
|
754
|
|
|
|
2
|
|
Pinus
merkusii
|
175
|
55,73
|
831
|
Pinaceae
|
|
|
3
|
|
Pinus
merkusii
|
203
|
64,65
|
170
|
Pinaceae
|
|
|
4
|
|
sapotaceae
|
78
|
24,8
|
400
|
sapotaceae
|
|
IV
|
1
|
|
Pinus
merkusii
|
208
|
66,24
|
121
|
Pinaceae
|
|
|
2
|
|
Pinus
merkusii
|
314
|
100
|
923
|
Pinaceae
|
|
|
3
|
|
Schima
walisii
|
235
|
74,84
|
980
|
|
|
|
4
|
|
Schima
walisii
|
102
|
32,48
|
474
|
|
|
V
|
1
|
|
Pinus
merkusii
|
310
|
98,72
|
328
|
Pinaceae
|
|
|
2
|
|
Pinus
merkusii
|
322
|
102,55
|
885
|
Pinaceae
|
|
|
3
|
|
Pinus
merkusii
|
242
|
77,07
|
1037
|
pinaceae
|
|
|
4
|
|
Schima
walisii
|
112
|
35,67
|
124
|
|
|
|
Stasiun
1
|
Stasiun
2
|
Stasiun
3
|
Stasiun
4
|
Stasiun
5
|
|
Kuadran
1
|
Leocarpus
sp
|
Pinus
merkusii
|
Diosopyros
ebenaceae
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
|
Kuadran
2
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
|
Kuadran
3
|
Capendhisia
brachteata
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
Schima
walisii
|
Pinus
merkusii
|
|
Kuadran
4
|
Pinus
merkusii
|
Pinus
merkusii
|
sapotaceae
|
Schima
walisii
|
Schima
walisii
|
Jadi,
Pinus
merkusii = 13
Capendhisia
brachteata = 1
Diosopyros
ebenaceae = 1
Schima
walisii = 3
Leocarpus
sp = 1
Sapotaceae =
1
Ringkasan Data Hasil Pengamatan Metode
Kuadran
|
No
|
Nama Jenis Tanaman
|
Jumlah pohon
|
Jumlah stasiun
|
Jumlah Keliling bidang
dasar (cm)
|
Kerapatan
|
Dominansi
|
Frekuensi
|
INP
|
||||
|
KM
|
KR
|
DM
|
DR
|
FM
|
FR
|
|||||||
|
1
|
Pinus
merkusii
|
13
|
5
|
2718
|
0,001325
|
65%
|
0,276994
|
77%
|
1
|
45%
|
187%
|
|
|
2
|
Capendhisia
brachteata
|
1
|
1
|
129
|
0,000102
|
5%
|
0,013146
|
3,5%
|
0,2
|
9%
|
17,5%
|
|
|
3
|
Diosopyros
ebenaceae
|
1
|
1
|
90
|
0,000102
|
5%
|
0,009172
|
2,5%
|
0,2
|
9%
|
16,5%
|
|
|
4
|
Schima
walisii
|
3
|
2
|
449
|
0,000306
|
15%
|
0,045758
|
13%
|
0,4
|
18%
|
46%
|
|
|
5
|
Leocarpus
sp
|
1
|
1
|
67,8
|
0,000102
|
5%
|
0,00691
|
2%
|
0,2
|
9%
|
16%
|
|
|
6
|
sapotaceae
|
1
|
1
|
78
|
0,000102
|
5%
|
0,007949
|
2%
|
0,2
|
9%
|
16%
|
|
KETERANGAN :
KM : Kerapatan Mutlak
KR : Kerapatan Relatif
DM : Dominansi Mutlak
DR : Dominansi Relatif
FM : Frekuensi Mutlak
FR : Frekuensi Relatif
INP : Indeks Nilai Penting
Kerapatan Total
KT =
dengan d = jarak rata-rata seluruh pohon (20 pohon)
d
= 496,85 cm = 497 cm = 4,97m
KT =
=
=
397,253 → 397
Kerapatan Mutlak Jenis i (KM)
KM
(i) = 
Pinus
merkusii =
= 0,001325
Capendhisia
brachteata =
= 0,000102
Diosopyros
ebenaceae =
= 0,000102
Schima
walisii =
= 0,000306
Leocarpus
sp =
= 0,000102
Sapotaceae =
= 0,000102
Kerapatan
Jenis i (KR)
KR (i) =
Pinus merkusii =
65%
Capendhisia
brachteata =
5%
Diosopyros
ebenaceae =
5%
Schima
walisii =
15%
Leocarpus
sp =
5%
Sapotaceae =
5%
Frekuensi
Mutlak Jenis i (FM)
FM (i)
= 
Pinus
merkusii = 5/5 = 1
Capendhisia
brachteata = 1/5 =
0,2
Diosopyros
ebenaceae = 1/5 = 0,2
Schima
walisii = 2/5 = 0,4
Leocarpus
sp = 1/5 = 0,2
Sapotaceae =
1/5 = 0,2
Frekuensi
Relatif Jenis i (FR)
FR (i) =
x 100%
Pinus
merkusii =
= 45%
Capendhisia
brachteata =
= 9%
Diosopyros
ebenaceae =
= 9%
Schima
walisii =
= 18%
Leocarpus
sp =
= 9%
Sapotaceae =
= 9%
Dominansi
Mutlak jenis i (DM)
DM (i)
= 
Pinus
merkusii =
0,276994
Capendhisia
brachteata =
= 0,013146
Diosopyros
ebenaceae =
= 0,009172
Schima
walisii =
= 0,045758
Leocarpus
sp =
= 0,00691
Sapotaceae =
= 0,007949
Dominansi Relatif Jenis i (DR)
DR
(i) =
x 100%
Pinus
merkusii =
x 100% = 77%
Capendhisia
brachteata =
x 100% = 3,5%
Diosopyros
ebenaceae =
x 100% = 2,5%
Schima
walisii =
x 100% = 13%
Leocarpus
sp =
x 100% = 2%
Sapotaceae =
x 100% = 2%
INDEKS NILAI PENTING (INP)
INP = KR(i) +
FR(i) + DR(i)
INP Pinus merkusii = 65%
+ 45% + 77% = 187%
INP Capendhisia brachteata = 5% + 9% +
3,5% = 17,5%
INP Diosopyros ebenaceae = 5% + 9% +
2,5% = 16,5%
INP Schima walisii = 15% + 18%
+ 13% = 46%
INP Leocarpus sp = 5% + 9% +
2% = 16%
INP Sapotaceae = 5% + 9% +
2% = 16%
PEMBAHASAN
Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun
suatu vegetasi umumnya terdiri dari :
1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
Metode
Titik
Merupakan suatu
metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode
ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar
terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai
titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang
digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).
Kelimpahan
setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu
persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian
merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh
sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama
suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi
adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
Metode Kuadran
Metode kuadran
adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak
contoh (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas
yang berbentuk pohon dan tihang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter
tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika
diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi
pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan
mulai anakan sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai
).
Metode
kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi
pohon dan menaksir volumenya. Metode ini mudah dan lebih cepat digunanakan untuk
mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Metode ini sering
sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot
dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini
cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan
analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang
sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau
vegetasi kompleks lainnya.
System
analisis
Titik-titik yang telah dibuat dan
disebarkan secara acak atau sistematis merupakan pusat-pusat dari suaatu daerah
pengamatan secara abstrak menjadi empat sector pengamatan sesuai dengan arah
mata angin. Empat sektor tersebut antar lain :
o Daerah
I : dibatasi
oleh arah Barat-Utara
o Daerah
II : dibatasi
oleh arah Utara-Timur
o Daerah
III : dibatasi oleh arah
Timur-Selatan
o Daerah
IV : dibatasi oleh arah
Selatan-Barat
Basal area
Basal area merupakan penutupan areal
hutan mangrove oleh batang pohon. Basal area didapatkan dari pengukuran batang
pohon mangrove yang diukur secara melintang (Cintron dan Novelli, 1984).
Diameter batang tiap spesies tersebut kemudian diubah menjadi basal area dengan
menggunakan rumus :
Dimana : BA = Basal Area
π = 3,14
d
= Diameter batang
Kerapatan
absolute
Kerapatan absolute = Luas area / P2
P = Total jarak / jumlah point center
Kerapatan
relative
Kerapatan relative = Jumlah spesies /
Total seluruh spesies x 100 % (Bambang, 2012).
Berdasarkan data kerapatan, dapat diketahui symbol
atau singkatan pada kerapatan pada analisis vegetasi:
· Kerapatan Mutlak (KM)
· Kerapatan Nisbi (KN)
· Berat Kering Mutlak (BKM)
· Berat Kering Nisbi (BKN)
· Frekuensi Mutlak (FM)
· Frekuensi Nisbi (FN)
· Nilai Penting (NP)
Menghitung kerapatan,
frekuensi, dominansi dan Indeks Nilai Penting
a. Densitas (kerapatan=K) adalah jumlah individu per satuan
luas atau per unit volume. Densitas spesies ke-i dapat dihitung dengan cara:
K-i = jumlah individu satuan jenis (i)
Luas
seluruh plot
K Relatif (KR)-i = K suatu jenis
x 100%
K
total seluruh jenis
b. Frekuensi spesies tumbuhan adalah jumlah plot tempat
ditemukannya suatu spesies dari sejumlah plot
yang dibuat. Frekuensi merupakan besarnya intensitas ditemukannya
spesies dalam pengamatan keberadaan organisme pada komunitas atau ekosistem.
Untuk analisis komunitas tumbuhan, frekuensi spesies (F), frekuensi spesies
ke-i (F-i), dan frekuensi relatif spesies ke-i (FR-i) dapat dihitung dengan
rumus berikut:
F-i = jumlah satuan petak yang diduduki
oleh jenis (i)
Jumlah
seluruh plot
FR-i = frekuensi jenis(i) x 100%
Jumlah
frekuensi seluruh jenis
c. Dominansi menyatakan suatu jenis tumbuhan utama yang
mempengaruhi dan melaksanakan kontrol terhadap komunitas dengan cara banyaknya
jumlah jenis, besarnya ukuran maupun pertumbuhannya yang dominan. Berikut
rumusnya:
D-i = jumlah kerimbunan individu suatu
jenis (i)
luas
area sampel
DR-i = dominansi jenis (i)
x 100%
Jumlah
dominansi seluruh jenis
d. Indeks Nilai Penting (INP) atau important value index
merupakan indeks kepentingan yang menggambarkan pentingnya peranan suatu
vegetasi dalam ekosistemnya. Apabila nilai INP suatu jenis vegetasi bernilai
tinggi, maka jenis itu sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem tersebut.
Indeks nilai penting (INP)
dapat digunakan untuk menentukan dominansi jenis tumbuhan terhadap jenis
tumbuhan lainnya, karena dalam suatu komunitas yang bersifat heterogen data
parameter sendiri-sendiri dari nilai frekuensi, kerapatan, dan dominansinya tidak
dapat menggambarkan secara menyeluruh, maka untuk menentukan nilai pentingnya
yang mempunyai kaitan dengan struktur komunitasnya dapat diketahui dari INP
nya. Yaitu suatu indeks yang dihitung berdasarkan jumlah seluruh nilai
kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dan dominansi relatif (DR) :
INP = KR+FR+DR
Manfaat Analisis
Vegetasi
Manfaat analisa vegetasi adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui komposisi jenis gulma dan menetapkan
jenis yang dominan. Biasanya hal ini dilakukan untuk keperluan perencanaan,
misalnya untuk memilih herbisida yang sesuai.
2. Dapat mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan
antara dua vegetasi. Hal ini penting misalnya untuk membandingkan apakah
terjadi perubahan komposisi vegetasi gulma sebelum dan setelah dilakukan
pengendalian dengan cara tertentu.
3. Dapat
mengetahui gulma - gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana
tumbuh dan ruang hidup.
Kesimpulan
Tipe vegetasi di Hutan Aek Nauli
adalah tipe Hutan Pinus dengan pohon yang dominan adalah Pohon Pinus (Pinus merkusii)
Vegetasi merupakan kumpulan
tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama
pada suatu tempat. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan
atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan.
Analisis vegetasi adalah suatu
cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur)
vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk
pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis
vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan
indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis
vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi
suatu komunitas tumbuhan
Daftar Pustaka
Arrijani, dkk .2006. Analisis Vegetasi. Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango
Bambang, dkk. 2012. Penuntun
Praktikum Ekologi Umum. Jambi: UNJA
Setiadi, D. 1984. Inventarisasi
Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita
Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor :
Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB.
Purwaningsih, dan R. Yusuf. 2005. Komposisi Jenis dan Struktur Vegetasi Hutan di Kawasan Pakuli, Taman
Nasional Lore Lindu. Sulawesi Tengah. Biodiversitas 6 (2): 123-128.
Sagala, E.H.P, 1997. Analisa
Vegetasi Hutan Sibayak II pada Taman Hutan
Rakyat Bukit Barisan Sumatera Utara.
Skripsi Sarjana
Biologi
(Tidak dipublikasi) Medan: FMIPA USU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar